Kolom

Presiden ?

Mereka yang sebaya dengan dengan saya tentu masih ingat, saat negara ini dipimpin oleh Presiden Soeharto. Ia mengendalikan negara ini dengan tangan besi, mengandalkan kekuatan angkatan bersenjata dan jaringan intelijen yang terbentang hingga pedesaan. Saat itu lembaga kepresidenan tampak begitu berwibawa, bahkan menakutkan. Mengutik-utik lembaga kepresidenan ibarat bercanda dengan maut, hanya orang bosan hidup saja yang akan melakukannya. Presiden Soeharto tipikal orang bertindak. Begitu Henry Kissinger mengatakan ?Bapak Presiden pasti tahu keputusan terbaik yang dapat diambil...? terkait masalah Timor Portugis, dalam hitungan bulan ia mengerahkan kekuatan ABRI untuk menyerbunya. Sontak tindakan itu membuat negara tetangga lain merinding bulu kuduknya. Bahkan saat itu pernah beredar isu panas dalam komunitas intelijen regional : From Hollandia to Dilli and then Port Moresby; yang menegaskan kekhawatiran sikap agresif Indonesia. Berkaca dari riwayat konflik masa lalu, Malaysia pun bergegas menegaskan Indonesia adalah saudara serumpun, abang bagi mereka. Hubungan Indonesia ? Malaysia berkembang sangat mesra, bagai kakak dan adik, kendati orang tak pernah tahu kapan adopsi massal itu terjadi. Menjelang Presiden Soeharto jatuh, seluruh kewibawaan lembaga kepresidenan runtuh. Nyaris tidak ada hari yang lewat tanpa hujatan kepada presiden, tak jarang isinya begitu getir dan sangat menghina. Reformasi pun datang, waktu bergulir, presiden datang dan pergi, namun perilaku menghujat itu masih saja dipelihara hingga kini. Sejak Presiden Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati hingga Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Menghujat presiden seolah sudah menjadi budaya, sudah menjadi kelumrahan di Indonesia, sehingga orang ramai pun tersentak ketika seorang tukang tusuk sate ditangkap polisi atas tuduhan menghina Calon Presiden (saat itu) Joko Widodo. Teriakan protes tak pelak berhamburan. : melanggar kebebasan berekspresi, melanggar hak azasi manusia, melanggar ini dan itu. Namun pada satu titik, banyak orang yang gagal memahami esensinya. Presiden bukanlah individu. Presiden adalah sebuah lembaga, presiden adalah simbol negara. Saat Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono atau Presiden Joko Widodo berbicara kepada pemimpin negara lain, ia bukanlah pribadi SBY atau Joko Widodo. Ia adalah Indonesia. Indonesia yang sedang berbicara kepada negara lain. Dan bagaimana bisa negara lain menghargai Indonesia, saat didalam negerinya sendiri, rakyat begitu bebas menghujat dan memaki lembaga kepresidenannya, bahkan menggambarkan dalam kartun-kartun tak pantas dan beredar di internet yang dintonton ratusan juta orang di seluruh dunia?. Bagaimana bisa orang Malaysia mengatakan bahwa Indonesia memilih presiden macam beruk sambil memajang foto Presiden Joko Widodo, jika tidak dimulai dari hujatan orang Indonesia sendiri?. Saya tidak mempertanyakan mengapa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono diam saja tatkala beliau dihujat, sehingga orang-orang di negara lain pun ikut melecehkan. Namun di akhir pemerintahannya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono mengirimkan pesan yang sangat jelas dan tegas -- baik di dalam negeri maupun keluar negeri -- melalui gelar pasukan besar-besaran dan unjuk kekuatan militer Indonesia pada HUT TNI yang baru lalu. Sebuah pesan kuat yang memaksa sementara orang menelan niatnya untuk mengacaukan acara serah-terima lembaga kepresidenan kepada Presiden Joko Widodo, sebuah pesan kuat yang memaksa negara jiran membongkar sendiri landasan mercusuarnya pada titik yang setengah tahun ini kita persengketakan. Jika ingin Indonesia dihormati negara lain, mari kita mulai dengan menghormati lembaga kepresidenan kita sendiri. Kritiklah dengan santun, tanpa harus menghujat dan menghina. Sebab menghina lembaga Kepresidenan sama saja dengan menghina Indonesia, menghina negara sendiri. Hanya orang bebal tak berotak macam beruk saja yang akan terus ngeyel melakukannya. Pangkalan Jati ? Cinere, 30 Oktober 2014

  Tentang kami

Kami adalah sekelompok alumni UGM yang terwadah di dalam Kagama.

  Gambar Terakhir
  Hubungi Kami
  KAGAMA Office

TBD.

Tel : -
Email : [email protected]
TBD.