Kolom

Minuman Dalam Kemasan, Berpengawetkah?

Beberapa tahun lalu saya pernah mengikuti training disalah satu?produsen daun teh didaerah puncak, salah satu ungkapan yang masih?melekat, mengganjal dan membuat bete sampai sekarang adalah?ungkapan trainernya ?coba kita seduh teh ini, dalam satu jam?kedepan warna dan rasa teh akan berubah, ini menunjukkan kalau teh?ini tidak berpengawet. Jadi, tidak usah percaya dengan minuman-?minuman teh dalam kemasan itu, semua minuman itu menggunakan pengawet?, hah???????????????, untungnya saya orangnya penyabar?(percaya kan????) klo enggak udah saya tonjok tuh trainer?, lagian?cupunya dipelihara (mau ngomong lebih kasar lagi, tapi gak tega hahaa). Lah ngomong gak pake mikir, dia gak tau kalau yang lagi?ditrainer bekerja di perusahaan minuman, jadilah doi bahan? tertawaan.? Salahkah yang dia katakan?salah. apa salahnya?karena? mengeneralisir semua minuman teh dalam kemasan sebagai minuman?berpengawet, kalau begitu bisa jadi dia juga akan menganggap semua?minuman dalam kemasan (entah itu susu, kopi, dan jus) berpengawet.?Memang, tidak semua minuman dalam kemasan bebas bahan?pengawet, tapi banyak minuman dalam kemasan sekarang?meninggalkan bahan pengawet dan mengawetkan minuman?menggunakan teknologi pengolahan minuman, dan teknologi ini?berkembang terus dari masa ke masa. Yang perlu diingat adalah:?mengawetkan makanan/minuman tidak berarti menambahkan bahan?pengawet didalamnya.? Sekarang saya ingin tanya. Rendang itu tahan berapa lama sih??berhari-hari bahkan berminggu-minggu kan?kalau daging ditaruh?diruang terbuka begitu saja?apakah akan sama tahannya seperti?rendang?gak kan. Kenapa rendang tahan lama?pakai pengawet??tidaaaaaaak, tapi menggunakan proses pengawetan makanan. Proses?pemasakan rendang pada suhu tinggi dan dalam waktu yang lama?itulah kuncinya, pemasakan inilah yang menonaktifkan?mikroorganisme perusak dalam daging sehingga rendang jadi tahan?lama. Kira-kira begitulah proses pengolahan makanan/minuman?yang juga digunakan oleh perusahaan-perusahaan makanan/?minuman, walau prosesnya pasti lebih kompleks.? Karena saya bekerja diperusahaan minuman (dan dulu juga kuliah?dijurusan teknologi pangan), maka saya coba menjelaskan bagaimana?minuman dalam kemasan itu bisa tahan lama dan enak?xixixixi. Yang?menjadi faktor utama penyebab kerusakan dalam minuman adalah:?mikroorganisme (bakteri, kapang dan khamir). Jadi, sebagian besar?proses pengawetan minuman untuk menurunkan jumlah?mikroorganisme, menonaktifkan mikroorganisme, atau bahkan?membasmi mikroorganisme hingga ke akar-?akarnya?.hehehehehehehehehee?.serta mencegah rekontaminasi?mikroorganisme dari lingkungan.? Proses pengolahan untuk mengawetkan dalam pabrik minuman?biasanya dimulai dengan pemanasan, tentu saja pemanasannya tidak?seperti mendidihkan air dalam tungku?xixixixi?.lebih keren dikit?dong, proses pemanasan minuman dikenal dengan beberapa istilah:? 1. Pasteurisasi: proses pemanasan dibawah titik didih produk untuk?menurunkan jumlah mikroorganisme. Proses ini tidak mematikan?semua mikroorganisme, tetapi hanya mikroorganisme yang patogen?dan tidak membentuk spora. Kelebihan proses pasteurisasi ini adalah:?cita rasa produk masih terjaga karena temperature yang digunakan?relatif rendah (dibanding pemanasan lainnya).? Kekurangannya: produk-produk yang dipasteurisasi tidak tahan lama?karena mikroorganisme masih ada walau jumlahnya telah dikurangi?(tentu saja dalam batas jumlah yang tidak menyebabkan penyakit?bagi manusia). Produk-produk yang menggunakan proses?pasteurisasi biasanya adalah produk minuman yang mempunyai?karakter high acid (atau asam), misalnya susu asam, minuman rasa?buah, jus dll. Ini dikarenakan kondisi asam sendiri sudah menjadi?kondisi yang tidak bersahabat bagi mikroorganisme.? 2. Sterilisasi: proses pemanasan diatas titik didih sehingga?mikroorganisme dan sporanya mati. Pada produk susu, proses?sterilisasi salah satunya dikenal dengan istilah UHT (Ultra High?Temperature), merupakan proses yang dilakukan pada temperature?yang sangat tinggi dan waktu yang sangat singkat (menurut SNI:?suhu yang digunakan 135?C selama 2 detik.) dan kemudian dikemas? secara aseptik. Biasanya susu UHT dikemas dalam tetrapack, botol?plastik, atau kaleng yang tahan panas dan dapat disimpan di suhu?ruang. Oleh karena itu susu UHT tahan disimpan lama, dan aman? untuk dikonsumsi.? Selain proses pengolahan dengan pemanasan, proses?pengemasanpun ada aturannnya. Iya dong, ini agar produk yang?tadinya sudah steril tidak mudah rusak lagi akibat rekontaminasi?pada saat pengemasan. Karena itu ruang pengemasan (filling) sangat?tertutup dan terkontrol, personel yang masuk dalam ruangan?terpantau baik kebersihannya ataupun jumlah personel yang masuk,?personel yang masuk menggunakan pakaian yang sangat tertutup?(mirip pakaian astronot gitu). Udara dalam ruangan juga terpantau,?biasanya personel quality control akan melakukan pengecekan?terhadap jumlah mikrobia dalam ruangan setiap beberapa jam atau?bahkan menit. Hal ini semua dilakukan agar tidak terjadi?rekontaminasi ulang dalam produk yang tadinya sudah?dipasteurisasia atau sterilisasi, sehingga tidak terjadi pertambahan?jumlah mikrobia atau bahkan melakukan joget disko eh joget pantura?dalam kemasan, jiahahaaaa lo kata ini konser dangdut?? Dalam proses pengemasan (Pengisian dalam kemasan/Filling)?dikenal beberapa metode yaitu:? 1. Hot Filling, dalam metode pembuatan kemasan (botol kaca atau?botol plastik /PET) terpisah dengan mesin filling. Botol/Capper?(penutup botol) yang masuk dalam ruang filling merupakan botol? kosong, yang kemudian akan disemprot dengan air (bisa air panas?atau dingin) atau bahkan ada yang menambahkan beberapa bahan?kimia (tentu saja yang diizinkan) dalam air untuk membersihkan botol?dari kontaminan seperti debu. Akan tetapi, di beberapa perusahaan?ada juga yang menggunakan sinar UV untuk membersihan botol dan?capper. Botol-botol itu kemudian akan diisi dengan produk yang telah?disterilisasi/pasteurisasi. Pada hot filling produk diisi pada suhu?tinggi 85?C-95?C, atau tergantung ketahanan botol terhadap panas.? Pengisian suhu panas ini mempunyai kelemahan yaitu, produk yang?dijaga agar tetap berada pada suhu tinggi mulai dari proses?pemanasan hingga pengisian biasanya menganggung rasa dan aroma? (over cooked).? 2. Aseptic Filling, pada metode pengisian ini, proses blowing botol?dan proses pengemasan berada dalam satu rangkaian proses,?sehingga kebersihan botol yang digunakan jauh lebih terjaga. Produk? yang telah di sterilisasi didinginkan dan dimasukkan kedalam botol?steril pada suhu dingin. Karena itu produk-produk yang diisi dengan?metode aseptic biasanya cita rasanya lebih terjaga. Pada awalnya?belum banyak produsen minuman yang memilih metode ini, karena?biaya investasi mesin yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan hot?filling. Untuk kelas kemasan botol plastik, produsen yang pertama?sekali mengenal proses ini adalah Nu Green Tea atau PT. ABC?president, lalu pocari sweat PT. Otsuka, eh apa otsuka dulu baru ABC?ya, lupaaaaa, kalau sekarang sih sudah banyak produsen yang beralih?ke metode aeseptic filling ini. Sebab, walau investasi lebih mahal, tapi? jaminan kualitas lebih baik dan botol yang digunakan juga bisa lebih?tipis (karena proses fillingnya bisa dengan suhu dingin).? Yang perlu diingat, proses pengisian dalam kemasan ini semua?dilakukan oleh mesin, yup mesin, emang lo pikir jaman baheula?dimana ngisi pake manusia yang megangin botol kayak ngisi botol? dari keran? Helloooow?heheheee. Jadi secara singkatnya proses?pengemasan begini: pemasukan botol dalam alat (bottle feeding),?pengisian produk (filling), penutupan dengan capper (closing),? pelabelan (shrinking), penyusunan dan pengemasan distribusi (siap-?siap di juaaaaaal).? Nah, sekarang sudah bisa sedikit mereka-reka kan, bagaimana proses?pengolahan minuman skala industri. Tapi apakah kemudian minuman?kemasan terbebas dari pengawet?hm?tidak juga, beberapa produsen?masih ada yang menggunakan bahan pengawet dalam minuman,?kebanyakan memang pada minuman-minuman dalam kemasan cup.? Kok bisa ya? Ini karena walaupun produk sudah dipasteurisasi tapi?kemasan cup mempunyai keterbatasan yaitu: tidak bisa diisi dengan?produk diatas suhu 90?C, bahkan rata-rata filling dilakukan pada suhu?produk maksimal 88?C. kemasan cup gampang collapse (atau meleot)?jika diisi dengan produk dengan suhu panas. Penutup cup yang?digunakan juga mempunyai kemampuan terbatas (lembaran-?lemabaran plastik kan tutupnya) untuk mencegah rekontaminasi?mikroorganisme dari lingkungan bila dibandingkan dengan capper.? Lalu kenapa produsen masih menggunakan kemasan cup??hallooooowwww ini kemasan murah sodara-sodara, jadi kalau?maunya Cuma beli produk seharga Rp. 1000 ya begitulaah kemasan?cup lah yang paling pas. Eh tapi kalau air mineral dalam cup sih?mungkin gak perlu pengawet lah yauw?lah mikroorganisme males?hidup disana, mau makan pakai apa doi?gula tak ada, protein pun tak?ada.? Tapi ingat sekali lagi, tidak semua minuman dalam kemasan ?yang?mahal? (klo Rp.1500 atau harga diatas rp. 1500 masuk kategori?mahal gak?) itu bebas pengawet, makanya rajin-rajin baca komposisi? dan semua informasi yang ada di kemasan. Pernah baca kemasan gak?sih?gak pernah?pernah?trus ngerti gak informasi apa saja yang ada?dalam kemasan itu?kagaaaaaak??hahahaaa?.. Memang sudah?menjadi ketentuan bahwa segala bahan yang digunakan untuk?membuat produk harus dicantumkan dalam label dan itu terdapat?dalam komposisi.? Bahan-bahan apa saja sih yang masuk kategori pengawet ?yang?diizinkan digunakan dalam minuman??? 1. Benzoat, dalam bentuk asam benzoat, natrium benzoat atau?kalsium benzoat.? 2. Sorbat, dalam bentuk asam sorbat, kalium/pottasium sorbat.? Bahan-bahan yang saya sebutkan diatas adalah bahan pengawet?yang diizinkan digunakan dalam makanan dan minuman, dan?dianggap aman bagi kesehatan jika dikonsumsi (tentu saja dengan? konsentrasi rendah). Akan tetapi, menurut beberapa catatan konsumsi?benzoat dalam konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan gangguan?pada lambung dan saluran pencernaan, dan memicu asma. Demikian?juga dengan sorbat bisa memicu gangguan pada kulit.? Jadi bagi konsumen awam, untuk mengetahui penggunaan pengawet?atau tidaknya adalah dengan pengecekan pada komposisinya. Ini?pilihan bagi anda, sebab walaupun bahan-bahan pengawet ini? diizinkan tapi jika anda khawatir dengan efek kedepannya maka?beralihlah ke produk lain, walau mungkin harganya lebih mahal.?Sebab bagaimanapun juga menjaga kualitas mempengaruhi biaya? produksi yang berpangaruh terhadap harga jual.?Jadi jangan asal komen ini berpengawet, itu berpengawet, baca?komposisi doooong, masa? ngomong berpengawet sedang pengawet?dalam minuman apa aja gak tau. Lebih parah lagi minuman yang?tanpa pengawet malah di judge berpengawet tapi dengan santainya?menyeruput minuman cup berpengawet diminumin keanaknya lagi.? So be smart parents ya teman-teman?..? And btw, semoga tulisan ini bermanfaat, koreksi, tambahan dan?masukan dari teman-teman lain juga sangat diharapkan.?(eh aq udah mulai malas2an kerja nih, udah pengen cuti lahiran aja,? ditambah aq belum boleh minum kopi jadi kadar kebeteanku?meningkat 50% lebih tinggi. Ini info penting banget loh)

  Tentang kami

Kami adalah sekelompok alumni UGM yang terwadah di dalam Kagama.

  Gambar Terakhir
  Hubungi Kami
  KAGAMA Office

TBD.

Tel : -
Email : [email protected]
TBD.