Kolom

Nyali ?

Apakah hanya pemimpin saja yang harus bernyali, sementara mereka yang musti ia pimpin tidak perlu memilikinya?. Saya jadi teringat pengalaman dua tahun lalu, di sebuah pulau yang menjadi pangkalan operasi offshore perusahaan minyak client saya. Saat itu adalah akhir pelaksanaan tugas yang diberikan kepada saya dari manajemen, untuk melakukan social & security risk assessment di wilayah kerjanya. Udara cerah, laut membiru, camar beterbangan. Kantung udara yang tergantung di atas kantor Jetty Master terkulai malas, pertanda cuaca sangat ideal untuk mengarungi laut, menuju ke keramaian. Kapal yang kami gunakan untuk mencapai daratan hanyalah kapal kecil saja. Ada delapan orang di kapal itu, termasuk Kapten kapal, satu orang ABK, karyawan client dan team saya. Bersama kami turut seorang mantan Kolonel TNI AL, beliau menjabat sebagai Deputi Manager Security di perusahaan tersebut. Tepat jam sepuluh pagi, kapal bergerak pelan meninggalkan dermaga. Setengah jam setelah berlayar, terdengar informasi yang disampaikan dari kantor Jetty Master melalui radio, mengabarkan jika kecepatan angin terus meningkat dan diperkirakan bisa mencapai 30 knot. Saat itu Kapten kapal tampak agak bimbang, sehingga sang Kolonel pun bertanya kepadanya : ?Bagaimana Kep, kita jalan terus atau kembali?.? ?Menurut Kapten sendiri, bagaimana?.? Ia balas bertanya. Tentu saja demikian, karena bapak Deputi yang mantan Kolonel itu, dulunya adalah komandan sebuah kapal perang besar. Setelah tiga menit mendengarkan dialog para kapten tersebut, akhirnya kapten kapal kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Dan begitulah yang terjadi, cuaca di depan kian memburuk. Gelombang mulai membesar, hujan lebat turun, kapal kami terbanting-banting kekanan,kekiri, mendongak ke atas dan beberapa saat kemudian menukik kebawah, mengikuti gerakan gelombang besar. Saya eratkan ikatan life jacket yang sudah erat itu sembari berusaha mengingat, kapan terakhir kali saya berenang. Wajah sang kapten kapal sangat tegang, begitu pula wajah bapak Deputi. Hampir dua jam kapal kami dipermainkan gelombang, bunyi hempasan lambung kapal ke air sungguh terdengar seperti ketukan di pintu akherat, hingga akhirnya kecepatan angin pun menurun. Kapal mulai berjalan normal, kami semua kembali duduk tenang. Saat itulah bapak Deputi menyatakan kekagumannya kepada saya. ?Wah hebat pak Haryoko, sama sekali tidak mabuk. Padahal anak-anak sekuriti yang badannya gede-gede itu, kena gelombang setengah dari tadi saya sudah kliyengan tak karuan, langsung mabuk berat. Tapi ngomong-ngomong, kenapa wajah anda memucat begitu?." ?Tentu saja wajah saya pucat pak dan bapak mau tahu kenapa?,? sahut saya setengah geli. ?Dari tadi waktu dihajar gelombang besar, saya perhatikan wajah kapten kita kelihatan pucat. Jika kapten saja pucat, wajar kan kalau penumpangnya lebih pucat lagi?? Kapal kecil itupun segera dipenuhi gegar tawa penghuninya. ---ooo--- Dan bukanlah demikian pula dalam kehidupan bernegara?. Bagai menunggang kapal, Presiden adalah kapten kapalnya, sementara semua warga negara adalah penumpangnya. Bukan hanya sang kapten yang harus bernyali, penumpangnya juga. Oleh sebab itulah saya menaruh respek yang dalam kepada Bapak Prabowo, yang telah menunjukkan nyali besar sebagai penumpang kapal bernama Indonesia ini. Oleh sebab itu pula saya menaruh kasihan yang dalam, kepada para penumpang lain yang masih terus bersikap nyinyir kepada sang Kapten baru. Bagi saya, mereka hanyalah penumpang yang tak punya nyali, akan terbukti nanti, hujatan segera mancur dari mulutnya tatkala kapal Indonesia digoyang gelombang, apapun bentuknya. Sungguh, saya menaruh kasihan yang dalam kepada mereka. Site Vico Indonesia, Muara Badak-Kaltim, 23 Oktober 2014

  Tentang kami

Kami adalah sekelompok alumni UGM yang terwadah di dalam Kagama.

  Gambar Terakhir
  Hubungi Kami
  KAGAMA Office

TBD.

Tel : -
Email : [email protected]
TBD.