Kolom

Guru untuk Anak, Guru untuk Bangsa

Tadi malam saya sebenarnya sedang sangat lelah. Sejak Senin saya ada tugas di Tangerang, sampai besok. Hari Senin jalan macet luar biasa. Walhasil, 4 jam perjalanan baru tiba di rumah. Tadi malam sedikit baik, kurang lebih 3 jam sudah bisa tiba di rumah. Seperti biasa, tiba di rumah saya disambut oleh jeritan girang Kenji, dilanjutkan pelukan hangat. Usai makan malam, kami berkumpul di ruang duduk. TV saya matikan. Ghifari minta dibimbing menyiapkan pidato untuk acara di kelasnya. Ia diminta memberi ceramah tentang pentingnya menuntut ilmu. Saya tuntun dia untuk menghafal hadist tentang menuntut ilmu. Kemudian saya bimbing dia menuliskan naskah pidatonya di komputer. Sementara itu Sarah juga tidak sabar. Ia memandangi tabel periodik elemen dengan penuh minat. Banyak pertanyaan yang ia ajukan selama saya membimbing Ghifari. Tapi saya tak bisa meladeninya, karena harus fokus dulu ke Ghifari. Sarah jadi sedikit ngambek. Lalu Kenji pun tak mau kalah. Ia duduk di pangkuanku. "Ayah, aku mau latihan nulis," katanya. Apa boleh buat. Kusuruh Kenju mengambil kursi dan buku tulis, lalu kudiktekan kalimat-kalimat yang harus ia tulis. Sambil mendiktekan kalimat-kalimat untuk Ghifari, aku juga harus melakukan hal yang sama untuk Kenji. Selepas itu Kenji juga menuntut untuk mengetik tulisannya ke komputer. Bah, komputer tak cukup, karena laptop yang satu lagi dipakai Sarah untuk browsing mencari informasi soal tabel periodik. Akhirnya Kenji mau mengalah, menuliskan kalimat-kalimatnya di tablet saja. Selesai Ghifari menulis naskah, barulah saya punya waktu untuk Sarah. Pertama saya jelaskan sedikit tentang teori atom berdasarkan teori Rutherford. Lalu saya jelaskan komposisi inti atom, yang terdiri dari proton dan netron. Struktur atom yang seperti itu membuat atom memiliki ruji yang berbeda-beda. Lalu saya carikan tabel periodik yang agak lengkap, menunjukkan tidak hanya nomor atom, tapi juga berat, ruji, bilangan ionisasi, dan sebagainya. Saya perkenalkan bahwa tabel periodik itu memuat banyak informasi, tidak sekedar nomor atom seperti yang selama ini dia kenal. Peliknya, Sarah menjadi semakin tidak sabar. Ia haus informasi. "Ini apa? Apa maksudnya not observed?" Ia menunjuk ke atom nomor 117. "Oh, itu atom yang belum bisa dibuat, tapi sudah bisa diprediksi secara teoretis." "Oh, ada atom yang dibuat ya?" "Iya, itu yang ada gambar orang, itu artinya atomnya buatan manusia." Keinginan saya untuk menjelaskan struktur atom dan tabel periodik sementara terputus oleh pertanyaan tentang atom buatan. Saya harus sejenak menjelaskan soal atom-atom buatan manusia, perbedaannya dengan atom natural, radiokatif, dan seterusnya. Setelah itu barulah saya menjelaskan susunan elektron-elektron dalam atom, yang menjadi dasar penyusunan tabel periodik. Saya jelaskan sedikit tentang mekanisme ikatan antar atom ketika atom-atom itu membentuk senyawa. Ada banyak lagi hal yang ingin ditanyakan Sarah. "Sudah malam, sekarang waktunya tidur." Ia menurut. Tapi dalam setiap geraknya ia berhenti sejenak, mencoba menawar, bertanya lagi tentang berbagai hal. Dari kamar istri saya keluar, memberi ultimatum untuk segera tidur. Saya ke kamar, menemui Ghifari dan Kenji sedang asyik baca buku. Saya kira tadi mereka sudah tidur. Usai peluk cium barulah lampu kamar anak-anak dimatikan, lalu saya sendiri bersiap untuk tidur. Badan lelah. Tapi saya harus melayani anak-anak saya. Tak banyak yang bisa saya ajarkan karena keterbatasan waktu. Tapi ada hal penting di situ. Anak-anak menikmati proses belajar. Mereka menemukan jawaban, lalu membuat pertanyaan baru. Rasa ingin tahu yang terpuaskan, membangun rasa ingin tahu yang baru, yang lebih besar. Kadang mereka mencari sendiri jawabannya. Sebagian saya bimbing untuk mereka temukan jawaban. Proses belajar tidak harus dalam suasana buka buku seperti tadi malam. Kadang sambil berkendara, makan, atau sambil bermain. Selalu ada hal yang bisa diajarkan ke anak-anak. Saya dibesarkan oleh orang tua yang tak sekolah. Saya kira banyak generasi saya yang demikian. Saya beruntung bisa menikmati pendidikan hingga jenjang doktoral. Maka, anak-anak saya harus menikmati pendidikan yang lebih baik dari saya dulu. Orang tua saya tak bisa mengajarkan banyak hal pada saya. Tapi saya bisa melakukannya. Maka saya lakukan itu, untuk membuat perbedaan. Kalau kita tak punya teknologi saat ini saya maklum. Karena kita dididik oleh para orang tua yang rendah pendidikannya. Tapi generasi anak-anak kita seharusnya sudah lebih baik. Karena mereka dihasilkan dari generasi terdidik. Tapi ingat, tak ada makan siang gratis. Tak ada kejayaan tanpa keringat. Untuk Indonesia yang mandiri dan maju, kita harus jadi guru bagi anak-anak kita. Menjadikan mereka lebih kreatif dan inovatif. Masa depan Indonesia 30 tahun ke depan di tentukan oleh hari-hari ini, di rumah-rumah dan sekolah-sekolah kita. Apakah Anda berperan di situ?

  Tentang kami

Kami adalah sekelompok alumni UGM yang terwadah di dalam Kagama.

  Gambar Terakhir
  Hubungi Kami
  KAGAMA Office

TBD.

Tel : -
Email : [email protected]
TBD.