Kolom

PIDATO ILMIAH DALAM RANGKA PENERIMAAN ?HABIBIE AWARD?

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh, Yang terhormat Prof. Dr.Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, idola dan panutan saya serta banyak lagi masyarakat Indonesia lainnya, Bapak IPTEK sekaligus inspirator perkembangannya di Indonesia. Yang saya hormati, Prof. Wardiman Joyonegoro sebagai ketua Yayasan SDM-IPTEK, para anggota yayasan, para pimpinan dan pengurus Habibie Center, dewan juri anugerah Habibie Award, serta hadirin sekalian yang saya muliakan. Pertama-tama ijinkanlah saya mengucapkan terimakasih terutama kepada Prof. Habibie dan panitia anugerah ini yang berkenan memilih saya bersama yang lainnya untuk menerima Habibie Award tahun 2014. Merupakan kehormatan sekaligus bentuk kejutan (surprise) yang sangat indah kepada saya dan keluarga untuk menerima penghargaan dari HABIBIE, sebuah nama yang pertama kali saya dengar beberapa tahun lampau ketika saya masihlah seorang anak Sekolah Dasar Negeri Terban Taman II di sudut utara kota Yogyakarta. Kala itu saya mendengar cerita dari Guru tentang kiprah teknokrat lulusan Jerman yang akan mengangkat semangat dan harkat martabat Indonesia di bidang teknologi dengan pesawat terbang, serta menghubungkan pulau-pulau Nusantara selaksa ratna mutu manikam. Juga ada satu lagi yang diceritakan oleh Guru saya tersebut, orang yang jika nanti pulang ke Indonesia selepas study nya, akan menerangi semua pulau-pulau sampai ke ujung-ujungnya.. sembari menunjuk ke arah Gunung Merapi yang nampak di jendela sekolah kami, Guru saya meneruskan: ?bahkan di puncak Gunung Merapi pun akan terang? ... nah, untuk teknokrat yang satu ini saya tidak tahu dan kehilangan jejak, apakah beliau yang dimaksudkan Guru saya itu, kemudian pulang ke Indonesia atau tidak... dan apakah kemudian meneruskan impian yang telah ditanam kepada kami murid-muridnya waktu itu. Namun cerita itulah yang menggugah imajinasi masa kecil saya sebagai siswa SD, dan tertanam kuat.... andai besar nanti saya bisa berpartisipasi untuk turut serta menerangi Nusantara selaksan ratna mutu manikam menjadi kenyataan. Bapak Ibu hadirin sekalian yang saya muliakan, dalam kesempatan kali ini ijinkanlah saya untuk menyampaikan Pidato Ilmiah yang berjudul ?Mendorong Penggunaan Teknologi Energi Terbarukan untuk Pembangunan Berkelanjutan di Indonesia?. Seperti kita ketahui bersama, Pemerintah Indonesia selalu mendapati tantangan untuk pemenuhan kebutuhan energy nasional dari waktu ke waktu. Banyak energy kita lebih terkuras pada issue politis yakni subsidi kepada BBM, sehingga setiap periode pemerintahan akan menghadapi tantangannya dari waktu ke waktu. Ke depan kondisi ini bukan lagi suatu pilihan, apakah kita bisa tetap menyediakan subsidi atau tidak, mengingat Indonesia telah berada di luar OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) dan masuk secara resmi menjadi bagian OPIC (Organization of the Petroleum Importing Countries). Maka hal ini haruslah disikapi dengan menyiapkan diri dengan mendorong penggunaan energy non fossil untuk memastikan pembangunan berkelanjutan untuk Indonesia. Issue pembangunan berkelanjutan sendiri adalah perihal yang harus menjadi perhatian bersama secara khusus, seperti halnya pernah diperkenalkan dalam forum dunia sejak tahun 1987 oleh Brundtland Comission pada World Commission on Environment and Development (WCED), yang secara khusus memberikan penekanan pada Pertumbuhan Ekonomi, Perlindungan Lingkungan dan Kesetaraan Sosial. Kemudian di PBB terdapat program yang diharapkan untuk mencapai itu semua terutama di Negara berkembang dengan adanya Millennium Development Goals yang akan berakhir pada 2015, diteruskan dengan rencana menjalankan program Sustainable Development Goals. Selain itu Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon pada 2012 telah mencanangkan program Sustainable Energy for All yang memuat kepastian akses ke pelayanan energy modern, peningkatan pada efisiensi energy serta meningkatnya peran energy terbarukan pada bauran energy global. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi Negara kita Indonesia, yang juga harus memastikan Pembangunan Berkelanjutan dan pemenuhan energy untuk semua warga negaranya termasuk di pelosok dan penjuru negeri. Pembangunan berkelanjutan merupakan upaya yang harus dilaksanakan secara terus menerus, terprogram dan memiliki tujuan dan cita-cita yang jelas, dan tentunya hal ini membutuhkan wahana berupa pendidikan. Perguruan tinggi yang memiliki Tri Dharma Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat memiliki peluang besar untuk menerapkan hal tersebut dan merealisasikan konsep Education for Sustainable Development menjadi kenyataan. Dalam perihal mendorong pemanfaatan energy terbarukan, perguruan tinggi memiliki kesempatan untuk melakukan pendidikan dan penelitian dengan melibatkan para mahasiswa generasi muda yang merupakan ? agent of change, agent of development ? mengenai trend dan berbagai macam pilihan teknologi dan diseminasinya. Hal tersebut bila sudah teruji kelayakannya dapat kemudian diaplikasikan melalui pengabdian masyarakat melalui program yang terencana, terukur dan dengan monitoring serta evaluasi yang memadai. Program ini diprakarsai oleh dua kelompok mahasiswa dari Curtin University, Australia, dan Universitas Gadjah Mada, Indonesia, dan terpilih sebagai pemenang kompetisi internasional Mondialogo Engineering Award 2007. Mondialogo Engineering Award adalah sebuah kemitraan yang diprakarsai oleh Daimler dan UNESCO. Kemitraan tersebut mendorong mahasiswa teknik di negara maju dan negara berkembang untuk membentuk tim internasional yang selanjutnya membuat proposal program yang sesuai dengan United Nations? Millenium Development Goals - khususnya dalam hal pengentasan kemiskinan dan pembangunan berkelanjutan - guna meningkatkan kualitas hidup di negara berkembang. Tujuan program ini adalah untuk menyediakan tenaga listrik dan suplai air bersih yang berkelanjutan untuk daerah terpencil dan tertinggal, khususnya menjadi bagian dalam tanggap darurat dan rekonstruksi di Indonesia, dengan menggunakan sumber-sumber energi terbarukan seperti energi surya yang ada di wilayah tersebut. Hal ini akan memberikan peningkatan yang signifikan pada proses rekonstruksi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat. Tim dari Curtin University memiliki dukungan yang kuat dari kelompok riset Renewable Energy and Power Systems, sebelumnya dikenal sebagai CRESTA (Centre for Renewable Energy Systems Technology Australia). CRESTA menyelesaikan riset pada sistem jaringan mini tenaga hibrida (minigrid hybrid power systems) dan reverse osmosis desalination plants dengan menggunakan teknologi energi terbarukan. Sementara tim mitra Universitas Gadjah Mada, dikenal luas karena memiliki reputasi yang bagus dalam hal pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat di Indonesia. Kemudian, keterlibatan masyarakat lokal setempat juga sangat penting dalam keberhasilan dan keberlanjutan program. Partisipasi masyarakat ini berlanjut selama program berlangsung melalui pendidikan di masyarakat sebagaimana juga dalam tahap pembangunan dan perawatan program. Berdasarkan hal ini, program ini memberikan kesempatan dalam proses transfer teknologi dan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat yang kurang beruntung. Setelah melakukan survey lapangan akhirnya ditentukan lokasi terpilih untuk program ini yaitu Dusun Banyumeneng, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta. Lokasi ini menghadapi masalah krisis penyediaan air bersih, khususnya pada musim kemarau setiap tahunnya. Selama musim penghujan, air dikumpulkan dalam penampungan air hujan, yang mana akan mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat selama tiga bulan berikutnya. Ketika air mulai mengering, masyarakat setempat membeli air dari perusahaan pemasok air lokal. Sayangnya, harga air tidak murah. Tiap-tiap keluarga mengeluarkan paling tidak Rp 150,000.00 setiap bulan untuk air bersih. Hal ini dirasa sangat memberatkan saat rata-rata pendapatan keluarga hanya sekitar Rp 400,000.00 atau kurang setiap bulannya. Tingkat pengeluaran untuk air bersih setinggi ini berarti masyarakat tidak mampu untuk meningkatkan taraf hidupnya, maka tingkat kesejahteraan yang kurang tetap dirasakan oleh penduduk Banyumeneng. Program ini bertujuan untuk menyediakan kebutuhan air bersih di Banyumeneng I, yang memiliki 153 penduduk yang tidak memiliki akses air bersih yang layak. Implementasi program didesain agar dilaksanakan melalui program pengabdian masyarakat yang dijalankan secara periodik oleh Universitas Gadjah Mada, yang bernama Kuliah Kerja Nyata ? Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat KKN-PPM UGM. Dalam program ini, kelompok mahasiswa tingkat akhir dari berbagai latar belakang disiplin ilmu yang berbeda diterjunkan selama dua bulan di daerah pedesaan agar terlibat aktif dalam proses pembangunan di lokasi yang ditunjuk. Seorang staf akademik bertanggung jawab untuk membimbing kelompok mahasiswa. Dengan cara ini, siswa memperoleh pengalaman pertama langsung menangani masalah masyarakat setempat, dan mereka berperan menjadi agen perubahan dan agen pembangunan yang aktif bersama-sama dengan masyarakat setempat. Untuk pelaksanaan program ini, tiga kelompok mahasiswa diterjunkan sebagai program yang berkelanjutan, yakni: * Kelompok pertama melibatkan sekitar 28 mahasiswa diterjunkan pada Juli - Agustus 2008 untuk tahap persiapan, seperti survei, keterlibatan sosial, dan sosialisasi teknologi. * Kelompok kedua melibatkan sekitar 26 mahasiswa diterjunkan pada Juli - Agustus 2009 untuk instalasi sistem pemompaaan air tenaga surya. Pada akhir Agustus 2009, program tersebut selesai dengan beberapa pekerjaan tambahan pada sistem distribusi air yang dilakukan sesudahnya. * Kelompok ketiga melibatkan sekitar 29 mahasiswa diterjunkan pada Juli - Agustus 2010 untuk program pemeliharaan, organisasi, pengembangan kapasitas, ekonomi dan isu-isu keberlanjutan. Model pembangunan ini kemudian mendapatkan kesempatan untuk direplikasikan di daerah yang memiliki kesamaan kondisi yakni karst area dan mengalami kesulitan air setiap musim kemarau, tepatnya di daerah Sureng, Kecamatan Tepus, Gunung Kidul. Dilakukan program yang menggunakan model pendekatan melalui Program KKN UGM selama 3 tahun berturut dan dibangunlah sistem penyediaan air bersih bertenaga matahari. Model ini berkembang dengan kerjasama bersama KEMENRISTEK untuk direplikasikan di daerah lain yakni di Jember, Jawa Timur dan juga di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dan saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum berencana melakukan pendekatan pembangunan sistem suplai air bersih model serupa bekerjasama dengan 10 perguruan tinggi lainnya di Indonesia dengan UGM sebagai role model. Pemanfaatan energi terbarukan tidak berhenti pada tahap instalasi atau pembangunan sistem, tetapi perlu adanya keberlanjutan yang memenuhi aspek teknis, ekonomi, sosial dan ekologi agar keberadaan sistem dapat terjaga sampai generasi masa depan. Sampai saat ini, pemanfaatan sistem energy terbarukan untuk masyarakat di Indonesia masih dihadapkan pada berbagai permasalahan yang cukup kompleks antara lain perkembangan IPTEK yang telah dilakukan belum mencapai sasaran pada masyarakat yang membutuhkannya, sehingga penguasaan teknologi yang ada sekarang ini belum maksimal. Selain itu pembinaan organisasi pengelolaan dan kemasyarakatan yang masih lemah mengakibatkan kecenderungan sistem yang telah ada tidak bertahan lama. Hasil kajian kami berupaya memetakan model pemberdayaan masyarakat untuk menerima teknologi energy terbarukan, sekaligus mendapatkan gambaran pentingnya dukungan yang mencukupi guna menjaga keberlanjutan sistem bekerja dengan baik. Juga ditemukan pentingnya menyiapkan simpul-simpul pendukung yang diperlukan terutama pada sisi peningkatan capacity building dalam bentuk kelembagaan, organisasi, sosial, ekonomi dan jaringan support teknis. Partisipasi masyarakat menjadi kunci keberhasilan program pembangunan dengan pelibatan dari mulai proses perancangan, pembangunan, pemanfaatan dan pengoperasian system sekaligus perawatannya sehingga muncul perasaan memiliki terhadap sistem yang dibangun (community ownership). Peta empat pilar yang diperlukan untuk mendukung penguatan dan keberlanjutan system ditemukan yakni hubungan sinergis A-B-C-G (Academic, Business/Economy, Community and Government). Dengan melihat beberapa aspek seperti keterlibatan masyarakat dalam tahapan proses pembangunan fisik, keberadaan orgasisasi pengelola dan dampak sosial ekonomi yang dimunculkan dari proses pembangunan fisik ini maka dapat dilihat ada potensi keberlanjutan dari sistem energy terbarukan ini. Meskipun memiliki potensi untuk berkelanjutan akan tetapi ada beberapa hal yang akan menghambat proses tersebut misalnya potensi konflik sosial akibat dari kecemburuan warga yang belum memperoleh akses sistem dan minimnya kapasitas masyarakat dalam melakukan perawatan. Oleh karena itu, perlu ada pendampingan yang dilakukan secara kontinyu terhadap masyarakat untuk menjaga sistem yang sudah dibangun. Proses pendampingan dilakukan melalui proses penyadaran dan peningkatan kapasitas masyarakat melalui berbagai bentuk ketrampilan dalam menjaga sistem maupun dalam memanfaatkan keberadaannya untuk peningkatan produktivitas usaha masyarakat. Dengan demikian, sistem energy terbarukan ini juga akan lebih memberikan kemanfaatan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara masyarakat ? pemerintah ? bisnis - perguruan tinggi perlu untuk dikedepankan dalam menjaga keberlanjutan program. Pemanfaatan teknologi tepat guna berupa teknologi energy terbarukan kepada masyarakat di daerah terpencil merupakan tanggung jawab bersama bagi peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di lokasi tersebut. Dalam hal ini capacity building masyarakat lokal tentu harus didukung secara bersama oleh suatu mekanisme yang dapat memastikan keberlanjutan operasi sistem yang dipasang. Pemerintah Republik Indonesia yang menjadi stakeholder utama pada penguasaan dan pemanfaatan dan aplikasi teknologi tepat guna bagi masyarakat dalam hal ini memiliki peran yang sangat penting. Kunci peran itu adalah memastikan kemampuan akuisisi, kemampuan masyarakat lokal terhadap teknologi energy terbarukan serta penyediaan simpul pendukung teknologi terutama paska instalasi sistem dalam hal operasional dan perawatan. Model workshop energi terbarukan yang telah dibangun di Kecamatan Srandakan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai simpul pendukung Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Hibrida (PLTH) Bantul perlu untuk lebih diberdayakan. Dalam hal ini, workshop PLTH Bantul dapat dipergunakan sebagai sentra pendidikan, pelatihan dan pelayanan teknis dengan cakupan wilayah tertentu: misalnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya serta Indonesia pada umumnya. Jika terdapat sistem yang telah dibangun, ke depan peran sentra workshop dapat melakukan pendidikan dan pelatihan kepada warga lokal, dan menyediakan layanan servis teknis jika diperlukan pada kejadian-kejadian khusus misal kerusakan yang tidak mampu ditangani oleh tenaga-tenaga terampil yang telah diberikan pelatihan. Selain itu Pemerintah RI dapat menggulirkan program-program yang pro rakyat, pro poor society, pro rural area, dan pro pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi energi terbarukan bagi Indonesia. Pendampingan dalam rangka peningkatan capacity building bagi masyarakat lokal juga perlu menjadi perhatian agar secara bersama masyarakat dapat meniti pembangunan bersama dengan saudaranya yang lain yang tinggal di daerah perkotaan dengan menikmati kesejahteraan dasar. Teknologi untuk Kemanusiaan, Teknologi Kerakyatan, Teknologi untuk Pengabdian pada Masyarakat Terimakasih atas perhatian dan perkenannya, Wassalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh Yogyakarta, September 2014 Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D.

  Tentang kami

Kami adalah sekelompok alumni UGM yang terwadah di dalam Kagama.

  Gambar Terakhir
  Hubungi Kami
  KAGAMA Office

TBD.

Tel : -
Email : [email protected]
TBD.